Sejarah perjalanan Sumpah S Pemuda dirintis sejak tanggal 15 november 1925 dengan dibentuknya Panitia Kongres Pemuda. Setelah Panitia Kongres Pemuda bekerja mempersiapkannya maka pada tanggal 30 april 1926, dilaksanakanlah Kongres Pemudake-l.
Kongres Pemuda ke-l ini diikuti oleh pemuda dari berbagai daerah, diantara tokoh-tokohnya ialah : Soegondo, Soewiryo, Reksodipoetro, Much. Yamin, Amir S., dsb. Keputusan penting yang dihasilkan dalam Kongres Pemuda ke-l ialah :
1). Cita-cita Indonesia Merdeka,
2). Menggalang persatuan.
Melihat fenomena munculnya semangat persatuan di kalangan pemuda Indonesia, sehingga membuat khawatir Pemerintah Belanda. Menteri Urusan Negara Jajahan Belanda yang bernama Hendrikus Colijn (yang juga mantan Perdana Menteri Belanda) di tahun 1927 berusaha mematahkan semagat pemuda-pemudi Indonesia dengan mengeluarkan statement : “Kesatuan Indonesia itu konsep kosong”. Namun statement bernuansa politis ini tak dihiraukan oleh Bangsa Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari Kongres Pemuda ke-1 maka PPPI berinisiatif mengadakan Kongres Pemuda ke-2. Maka pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda yang ke-2 dilaksanakan selama dua hari. Kongres diketuai oleh: Soegondo Djoyopoespito, wakil ketua : R.M. Djoko Marsaid, selaku sekretaris kongres ialah Much. Yamin, dan Amir 5. sebagai bendahara.
Kongres Pemuda ke-2 ini dihadiri pula oleh wakil dari Pemerintah Hindia Belanda yaitu Dr. Pyper dan Van der Plas sebagai peninjau. Peserta kongres kurang lebih 750 peserta mewakili daerah-daerah di Indonesia.
Pelaksanaan Kongres Pemuda ke-2 yang berlangsung selama dua hari ini (27 & 28 oktober) terbagi dalam tiga kali sidang. Sebagai pembicara pada sidang yang pertama ialah : Soegondo Djoyopoespito dan Much. Yamin. Pada sidang yang kedua pembicaranya ialah : Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro.
Pembicara pada sidang yang ketiga ialah : Ramelan dan Theo Pangemanan serta Soenario Sastrowardoyo (kakek artis sinetron Dian Sastrowardoyo).
Pada sesi sidang terakhir, setelah menampung semangat persatuan dari peserta kongres yang notabene adalah wakil-wakil pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dan juga setelah merangkum isi ulasan para pembicara, maka dibuatlah hasil keputusan kongres. Dalam hal ini Much. Yamin menulis draft keputusan Kongres dengan tulisan tangan, dan olehnya draft itu diberi judul : “Poetoesan Kongres Pemoeda-Pemoeda Indonesia”. Adapun isi. draft keputusan itu berbunyi :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA.
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEN, BAHASA INDONESIA.
Kemudian draft keputusan tersebut disetujui secara aklamasi oleh seluruh peserta sidang, dan teks keputusan itulah yang menjadi sumpah bersama dan disebut “Soempah Pemoeda”.
Sebelum teks Soempah Pemoeda itu dibacakan dihadapan peserta kongres, Wage Soepratman (nama aslinya Wage Soepratman, kemudian agar bisa diterima di sekolah Hindia Belanda padahal ia adalah orang bumiputera, maka namanya ditambahi “Rudolf” untuk pertama kalinya memperdengarkan lagu yang berjudul “Indonesia Raya”.
Dua tahun kemudian, agar pergerakan pemuda lebih terorganisir maka pada tanggal 31 desember 1930 organisasi-organisasi pemuda melakukan fusi dan diberi nama “Indonesia Moeda"”.
Sumpah yang diikrarkan para pemuda Indonesia di tahun 1928,
Sebenarnya telah dicontohkan dalam Al Our-an:
Pemuda Ibrohim sebagaimana dalam Al Our-an yang bersumpah demikian :
وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَٰمَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا۟ مُدْبِرِينَ
Artinya: Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
Pemuda Musa yang bersumpah dengan ucapan :
لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا
lā abraḥu ḥattā abluga majma'al-baḥraini au amḍiya ḥuqubā
Artinya:Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
Demikianlah sekilas tentang sumpahnya Ibrohim, sumpahnya Musa, dan sumpahnya pemuda 1928, dengan harapan kita semua dapat mengambil hikmah darinya."







